The Only Difference Between You and Coffee

Hari sudah berganti tapi malam yang sama belum bergulir. Before I’m going to sleep let me talk about you for last time, I wish it could be really the last moment remember you as we were. Terlepas pantas atau tidak pantas aku menyebut hubungan kamu dan aku dulu sebagai kita, aku baru sadar menikmati waktu bersamamu dulu sama seperti menikmati secangkir kopi. Kenapa? Aku sangat menyukai kopi dan kopi dapat merangsang otakku untuk lebih kreatif dan intense bercerita tanpa ingin berhenti.

(photo by decolore.net) Continue reading The Only Difference Between You and Coffee

Advertisements

Gadis Kecil Berbaju Jingga

“Kamu pernah bermimpi aneh gak?”

Aku sedang mengunyah kentang goreng yang sudah dingin saat Fanel tiba-tiba bertanya setelah sibuk memandangi jalan. Kami duduk berhadapan di sebuah café yang tidak ramai pengunjung dan di luar sana sedang hujan lebat. Walau Fanel tidak sedang melihat kearahku aku bisa melihat wajahnya sedang serius.

“Mimpi aneh ya” aku bergumam kepada diriku sendiri sambil berpikir mimpi aneh semacam apa yang Fanel maksut.

Kebanyakan mimpi tidak ada yang tidak aneh, hampir semua mimpi terasa janggal. Seperti bermimpi di dalam mimpi yang sering ditampilkan dalam film horror, aku juga pernah bermimpi seperti itu. Aku juga sering bermimpi bisa terbang namun aku tidak pernah bisa mengendalikan tubuhku sendiri sehingga rasanya tubuhku seperti sedang dibawa oleh angin, berputar-putar sampai kepalaku pening.

“Seperti apa contohnya?”

“Bertemu saudara-saudaramu yang sudah mati padahal kamu belum pernah bertemu sebelumnya” jawab Fanel masih dengan wajah seriusnya. Continue reading Gadis Kecil Berbaju Jingga

Secarik Kain Penutup Mata

(photo by Google)

Aku pernah menjalani kehidupan dengan langkah gentar, takut barang kali di depan ada tanjakan atau menemui jalan buntuk atau lebih parahnya lagi jurang curam di ujung perjalanan. Karakterku terlalu mudah memikirkan segala sesuatu terlalu jauh sehingga aku lebih mudah menyerah diawal ketimbang mencoba lebih dulu. Sekiranya aku merasa tidak mampu melihat medan yang akan aku tempuh aku memilih mundur dan berlari sejauh mungkin. Jarang sekali aku bisa menghadapi ketakutanku sendiri. Apalagi saat itu kepercayaan diriku seperti habis terenggut tanpa sisa. Hampir tidak ada yang mendukung pilihanku. Aku tidak hanya kehilangan kepercayaan diri tetapi aku mulai meragukan orang lain terutama orang-orang terdekatku. Continue reading Secarik Kain Penutup Mata

Come Back Home

“… a home that is away from home ” by Windy Ariestanty

Pantai Boom ©ARR

Baru beberapa jam yang lalu saya membaca A Home Away From Home – Life Traveler karya mbak Windy Ariestanty. Life Traveler sudah saya beli sejak satu atau dua bulan yang lalu tapi saya baru sempat membacanya saat saya baru saja menyandang status pengangguran, yang berarti saya tidak akan pergi kemana-mana. Disamping karena urusan uang saya juga harus segera menyelesaikan skripsi. Tadi saya memikirkan home yang dimaksut Mbak Windy. Sebetulnya saya paham betul apa yang dimaksut a home is away from home karena saya juga pernah memilikinya. Continue reading Come Back Home

Pemantik dan Api

pemantik kayu terbakar – foto by delgoye.persianblog.ir

Ada hal yang harus kutinggalkan tanpa menunggu waktu atau menunggu pertanyaan-pertanyaan mendapat jawaban. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu memiliki masa depan, ada nanti; esok; lusa yang akan menjawabnya, selama waktu terus berjalan jawaban itu pasti ada walau si orang yang memiliki pertanyaan sudah tiada. Continue reading Pemantik dan Api